Rabu, 03 April 2013

Cerpen : Bapakku Seorang Teroris


Telapak tanganku sedikit terbuka. Dan sinar-sinar pagi mulai menerangi garis-garis kusam yang terlentang tak berdaya di telapak tangan sebesar buah mangga ini. Awan yang menghilang dan cahaya terang yang sirna jelas tak seperti suasana diriku sekarang. Sebenarnya rasa senang dan riang jelas terasa hangat dalam sepanjang aliran arahku. Bagaimanna tidak, yang ada di pelupuk mataku sekarang hanyalah kerinduan. Kerinduan akan surga masa kecilku yang luntur. Ya, rumahku, lebih tepatnya rumah masa laluku, rumah tua bersaka kayu dan berlantai putih kini di depanku. Haru dari beberapa meter teras yang kumuhpun sangat kurasakan. Tak lama kemudian, pandanganku pecah dan yang ada hanyalah kebencian, kebencian yang dalam dan beralasan tentunya. Tangan ini terasa sakit dan yang batinku serasa menghitam. Kayu atap yang agak miring beberapa belas derajat dan ditumbuhi lumut hijau terlihat kontras dengan tembok kuning yang berlubang.
Bukan itu, atau jendela tanpa kaca dengan serangga kecil yang tak berdosa yang membuatku remuk. Jendela dan tembok yang hangus serta pecahan kaca yang berserakan tak berguna memperjelas pandanganku ke dalam, ke dalam ruang yang terlihat dan jelas tidak diragukan lagi adalah ruang tamu dan mungkin bisa dikatakan bekas ruang tamu karena yang ada hanyalah kursi terbalik yang memuntahkan isinya dengan berbalut usia senja dan duka lara yang tampaknya bertahun-tahun ia simpan.
Kursi-kursi itu seakan-akan berteriak masih layakkah aku menangis. Dan batinku semakin berantakan akan teriakan kursi itu. Tetes demi tetes air mata tak kuasa kutahan, dan telapak tangan ini terasa semakin sakit. Sakit yang semakin menjadi-jadi kala hidungku mencium sesuatu yang aneh.
“Darah . . .. .”
Sejenak deetak jantugku berhenti. Sementara bau itu semakin tajam, tanganku gemetar lagi, dan rasa sakit luar biasa tiba-tiba menggertakku. Ruangan menjadi terombang-ambing di mataku dan lenyap, onggokan kursi dan figura tanpa penghunipun berlarian dalam benakku seperti film berkelap-kelip, membutakanku terhadap sekitarku.
Aku berusia lima tahun, berlarian dan bernyanyi-nyanyi, hatiku diliputi rasa senang. . . . .aku berusia dua belas tahun, duduk manis membisu dengan seragam baru, hatiku diliputi rasa bangga. . . . .ayah sekarat kena peluru. . . . . . adikku terbaring di rumah sakit penuh darah. . . . .dan detensi dipenuhi luka penuh nanah. . . . .gadis berambut merah hitam yang semakin dekat kepadaku sampai aku bisa melihat torehan garis di kornea matanya. . . .oh, TIDAK!!!, kata suara dalam kepalaku, sementara kenangan akan gadis itu semakin dekat, kau tak boleh mengingatnya, TIDAK!!!, kau tidak boleh, dia membuatmu seperti ini.
Rasa sakit semakin menusuk tulangku dan samar-samr figura itu telah kembali tersenyum manis dengan pelan di depanku. Tapi, apa yang terjadi, yang di mataku sekarang bukan onggokan sampah kursi ataupun bukan bekas ceceran darah juga kkain-kain lusuh muntahan. Silau, siang terasa cepat sekali dan sekarang malampun datang menjelang. Kaca-kaca kini bersambungan kembali dan cat-cat yang beberpa menit yang lalu memudar kini telah memuda.
“Semuanya berlindung di kamar! Jangan sampai keluar kamar!” tersentak, siapa itu, hanya raga dan jiwaku yang hinggap didini, tak ada yanglain, atau mungkin hanya ilusi, ah, tak...
“Rifki! Masuk sekarang!”
Penglihatanku buyar. Sepotong kepala besar dihiasi mata biru bulat lebar yang menganga dan hidung bengkok serta telinga yang kendur mirip telinga gajah mendadak berjalan dengan kecepatan tinggi dalam benang-benang saraf motorikku. Kumis kotak mirip komedian Jojon dan sebuah tahi lalat sangat hitam menghiasi parasnya dengan dilengkapi rambut ikal serba berantakan serta wajah kotak itu memantapkan keyakinanku bahwa lelaki setengah baya yang memilki kepala itu adalah . . .
“Kok bengong? Gila kau? Masuk sekarang, Rifki!” ya, ayahku. Tepat.
“Ayah?” Ayahku di depanku, sosok yang kurindukan, “dengarkan ayah! Kau berlindunglah sekarang di kamar! Sekarang, Rif. Sebelum. . . ,” ayah sejenak menlen ludahya sendiri, “sebelum warga desa menghampiri rumah kita!”
“Lalu ayah?”
“Ini darurat, sayang. Kau masih punya. . .. . .,” dan ayah mendekat, semakin dekat, jelas terlihat guratan tanda usia senjanya di mataku, dan semakin dekat, sampai aku bisa menghitung tetes demi tetes air mata di pipinya.
“Jangan melihat ayah begitu Rifki. Ayah bukan Asna. Kau tak perlu gugup,” oh tidak. . .
“Rifki, kau kebanggaan ayah, kau masih muda, Rifki. Kau punya cita-cita yang ayah impikan, jangan seperti ayah, Rif. Negara yang semprawut ini membutuhkanmu, Rif.” Ayah menghela nafas sejenak, “tapi berpeganglah pada agama. . . . . .”
“Kang Abdul! Warga dan pak RT tidak jadi kesini, kang! Pak kades sudah bereskan semua. . . . “
“Mustahil! Kakang, kita harus pergi dari sini. Kalau tidak, kita akan mati konyol, kang?”
“Pergi, Bu? Pergi kemana, Bu? Rafa tak mau. . . .”
Tangan yang taddinya memegang erat pundakku sekarang lepas dan tubuhnya berbalik, ayah berdiri dan akupun ikut berdiri. Ruang tamu yang tadinya sepi kini ramai. Ibu, Om Kosim, dan Rafa, adikku yang berusia tiga tahun lebih muda dariku dan sekarang duduk di kelas 6 SD, kini telah bergabung.
“Kosim, maksudmu apa?” Wajah ayah menatap mantap dan dalam dengan penuh makna lelaki berambut hitam cepak mirip tentara dan bertubuh jangkung yang tidak lain adalah ayah Asna.
“Kang, jangan pergi, ini kampung kita, ini kampung nenek moyang kita, kita dilahirkan disini, kita dibesarkan disini, dan kitapun disini untuk menjaga nenek moyang kita...,” tatapan mata om Kosim terlihat mantap dan penuh tenaga, mendengar itu ayah hanya menunduk seakan memikirkan sesuau yang berat, tidak berkomentar, tidak berkata apa-apa, tidak membuka mulut sedikitpun.
“Tapi bang Kosim, kalu toh warga desa tidak begerak sekarang. Mereka bisa kapan saja menggempur kita......,” sahut ibu dengan tatapan tajam seakan hendak menerkam mangsa ke arah om Kosim, “mereka tak akan diam! Tak mungkin.....,” ayah sekarang duduk, lebih pasrah, “kang?” Pndangan ibu sekarang menuju ke ayah sekarang. “Mereka tidak sebodoh tidak sebodoh itu, kang. Mereka tidak mendukung kita sama sekali, mereka menganggap kita pantas dimusnahkan, kang. . . .”
“Cukup, Aisyah! Kau menghina kawanku! Dia tahu apa yang dia harus lakukan. Sudah cukup sekarang, . . ,” om Kosim dengan cekatan berbalik menatap ibu, “kau hanya. . . “
“Apa, Bang? Hanya apa? Aku tak pernah menyalahkan suamiku. Dia bejuang dan. . . . . . .”
Om Kosim berbalik dengan cekatan lagi. “Dan kau tidak mendukungnya. Kau malah mengumbar-ngumbar rahasia suamimu.” Om Kosim berbalik mentap ibu lagi namun dengan sangat lamban, “iya, kan? Dasar. . . .”
“Enak saja kau ngomong seperti itu! Lihat kau! Aku tak pernah melakukan perbuatan sehina itu. .. dan,” wajah ibu kkini memerah padam, pun dengan om Kosim, tatapan mereka  penuh dengan kebencian, seakan ada sesuatu yang sangat layak untuk diperhitungkan saat ini. “Dan kau! Kau yang melakukan itu, kan?” Wajah ibu semakin endelik ke om Kosim, “jujur saja kau! Tak usah bohong di depanku! Apa yang kau lakukan saat kang Abdul pergi?” Wajah om Kosim terlihat aneh tanpa arti. “HAHA! Dasar pembual!”
Cukup, Aisyah! Kau. . . .,” dan sekarang wajah om Kosim telah berisi darah kembali, “kau hanya ingin menjatuhkanku! Aku dan kang Abdul berteman sejak kecil,” gerakan berbalik-balik diperagakan kembali oleh om Kosim, “dan kau hadir baru. . . . ,” kata-kata om Kosim tidak jelas dan aku melihat ekspresi kebingunganpun menyelimuti wajah ibu.
“Baru apa? Baru beberapa tahun lalu lalu mempeerkeruh persahabatanmu?” Rafa hanya terdiam, begitupun dengan ayah, dan tak terduga ibupun kini sejenak teerdiam. “Ha! ha! Ha,! “ senyum kecut menghiasi bibir ibu, “kau yang menghianati sendiri sahabatmu, Kosim!”
Teriakan ibubegitu jelas dan akupun mulai mendelikkan mata memandang semua ini seolah-olah satu bagianpun aku tak mau ketinggalan.
“Dasar wanita sialan!” PLAK! Seakan ada sesuatu yang menggerakan tubuhku, darah seluruhnya mengalir, mengalir deenga cepat, bahkan sangat cepat. Tak hanya aku, ayah dan Rafapun demikian. Ibu ditampar om Kosim. Oh Penguasa Jagad, apa, apa yang terjadi disini, mengapa ini terjadi?
“Ibu. . . . . .,” Rafapun menjerit melihat ibu yang tergeletak tak berdaya dengan tangan yang memegangi pipinya yang kesakitan, dan belum sempat aku dan Rafa menhampiri, “Rafa. . . . . Rifki. . . . .Sekarang masuk!!”
“Tapi, Bu?” jawab aku dan Rafa bersama.
“Sekarang! Masuk!”
Aku rasa teriakan terakhir ibu yang mungkin berasal dari sisa tenaga ibu tak usah aku dan Rafa ingkari. Dan akupun masauk bersama Rafa yang merintih-rintih memegangi lenganku.
××××××
“ Hati-hati Asna!” matanya itu membuatku luluh tah berdaya. Rambut merah hitamnya yang tertata dan paras mukanya yang elok dilengkapi dengan senyum manisnya yang rupawan benar-benar membuatnya waw, sangat cantik.
“Kak? Kak Rifki? Asna masuk ke rumah ya?”
“Cantik sekali kamu dek, waw, eh, iya, dek. Sampai ketemu lagi.” Asna melambai dengan tersenyum nyengir dan akupun pergi dengan sejuta senyuman.
Dan, apa yang terjadi. . .
 “Api. . . . . .ibu. . . . . . .api, Bu. . . . . . . ayah. . . . .  .api. . . . . tolong!!!!!” panik, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Api, di depanku, api yang membara, menjilat-jilat dan membakar rumahku.
“Bu. . . . .ayah. . . . .Rafa. . . . . . api. . . . .tolong. . . .KEBAKARAN!!!” Tapi percuma, tidak ada siapa-siapa, oh, Tuhan. . . .
“Kebakaran. . . . . . . . “
“Rifki! Rifki!”
Aku membuka mataku. Sekujur tubuhku dibanjiri keringat dingin, penutup tempat tidur membelitku bagaikan baju pengekang, aku merasa seakan pengorek-api membara ditempelkan ke seluruh badanku.
“Rifki!”
Ibu berdiri di depanku, tampak luar biasa ketakutan. Ada sosok lain disitu, ya, Rafa,. Aku mencengkeram kepalaku dalam tanganku, rasa sakit membuatku buta. . . .. aku berguling dan muntah lewat tepi tempat tidurnku.
“Kak Rifki sakit, Bu.” Kata Rafa ketakutan.
“Rifki! Rifki!”
Aku harus memberitahu ibu, sangat penting dia memberitahunya. . . . menghirup udara banyak-banyak, aku memaksa diri dudu di tempat tidur agar tidak muntah lagi, rassa sakit setengah membutakanku.
“Bu. . . .Rumah kita,” sengalku, dadaku naik turun berat. “Rumah kita terbakar, Bu.”
“Apa?” kata ibu tak mengerti.
“Rumah kita, Bu. Rumah kita terbakar, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. . .”
“Aku panggil ayah!” kata Rafa, dan aku mendengar langkah-langkah kaki Rafa berlarian dari kamar.
“Kau hanya bermimpi, nak!” kata ibu bingung.
“Tidak!” teriakku gusar. Langkah kaki tiba-tiba terdengar kembali. Namun, sekarang menuju ke dalam, dan yang datang Rafa dan ayah yang memakai baju tidur kotak-kotak dengan kacamata miring diatas hidungnya yang mancung. “Awalnya, aku hanya mimipi. . . .mimpi konyol, tapi tiba-tiba semuanya terlihat seperti nyata!”
Tapi tak seperti yang diharapkannya, semuanya hanya bergumam, tapi tidak peduli. Rasa sakit di sekujur tubuhku sdikit mereda, meskipun aku masih berkeringat dan gemetar hebat. Aku muntah lagi dan Rafa melompat mundur menghindar.
“Rifki, kau tidak sehat,” kata ayah bergumam.
“Tidak, aku baik-baik saja,” sedakku, mengusap mulut dengan piama, dan gemetar tak terkendali.
“BAKAR SEMUANYA!!!!!!!, MUSNAHKAN TERORIS DARI BANGSA KITA!!!!! MUSNAHKAN TERORIS DARI DESA KITA!!!!!!! BAKARR!!!!!!”
Teriakkan-teriakkan itu benar-benar memecah pagi yang mendung dan butir-butir awan yang menggumpal. Tak ada angin, tak ada badai, tak ada hujan, dan tiba-tiba jantungku goyah, bergetar sangat cepat. Secepat langkah ayah berlari ke depan.
“Rafa, Rifki sekarang kalian pergi lewat pintu belakang. . . . Biar ibu dan ayah yang menghadipi mereka,” ibu terlihat gusar dan di matanya jelas terlihat kecemasan.
“JANGAN DENGARKAN DIA!!! SEKALI TERORIS TETAP TERORIS!!! PENGHIANAT NEGARA!!! TERKUTUK!!! JAHANAM!!!”
Suara itu, suara om Kosim, tidak, pasti bukan, mana mungkin.
“Raf, Rif, ibu mohon kalian pergi sekarang, kalian kebanggaan ibu, kalian pasti akan tahu jalan kemana kalian harus hidup. Kita memang sendiri disini. Tapi tidak begitu, nak. Masih banyak jalan, kalian harus berjuang,” ibu mencium pipi aku dan Rafa dan mukaku sangat basah, tangisan yang terisak itu membuatku dan Rafa menangis, “sekarang, pergilah!”
“Tapi, Bu?” Aku menyela.
“Kalian tak perlu mengkhawatirkan ibu dan ayah. Ibu dan ayah akan baik-baik saja.”
“BAKAR SEKARANG!!! TAK USAH BANYAK OMONG!!! BAKAR SEKARANG!!!
“ Pergilah, sayang. . . .”
Sekali lagi ibu mencium pipiku dan Rafa, dan akupun pergi dengan membawa Rafa, tidak membawa sesuatu apapun. Belum sempat aku memaksa kakiku keluar dari halaman pagar rumah, bunyi keras seperti petasan meletup  dari punggungku. Dan Rafa tiba-tiba terjatuh. Gemetar, yang kusaksikan didepan mataku adalah kobaran api, kobaran api di pagi yang kelabu seperti dalam mimpiku. Tidak, nadiku sejenak berhenti, urat-urat sarafku tiba-tiba menegang. Dan tidak ada dalm pikiranku. Api, tak mungkin kupadamkan dengan tetes air mataku, sekarang. Aku tak bergerak, dan tak bisa bergerak sedikitpun.
“TIDAK!!!”
Ayah, ibu, dimana? Dimana sekarang? Dan yang ada di sampingku, Rafa yang terbujur kaku dengan bersimbah darah di bagian lengan dan pahanya. Pisau yang menancap di lengan dan pahanya benar-benar  mencincang hatiku, yang beberapa milisekon sebelumnya telah hancur. Mata yang mungil dan membuka dengan tatapan kosong memandang entah kemana. Ayah, Ibu, Rafa.
“Oh. . . . Tuhan. . . . .  Adilkah semua ini? Adilkah?”
“ITU ANAKNYA! HABISI DIA! JANGAN KITA SISAKAN KETURUNAN TERORIS DI BUMI KITA TERCINTA INI!”
Dan aku harus pergi, aku harus memperjuangkan pesan ayah dan ibu, tidak hanya itu, pesan yang diberikan kepada Rafa kini juga berada di pundakku, dan aku tak boleh berdiam, aku tak boleh mayi konyol, aku tak boleh terus disini, aku harus pergi.
Dan kini yang berdiri dibelakangku adalah om Kosim, walau terpaut sekitar sepuluh meter, tubuh jangkungnya jelas memantapkanku bahwa ia adalah om Kosim yang membawa pisau dan obor api.
“Aku harus lari. . . .Aku harus lari. . . .”
BUKKK! Samar-samar aku mendapati bahwa tubuhku terkena sesuatu. Oh, Tuhan, inikah ajalku untuk pergi, bersama orang-orang yang kucintai, dan air hujan tiba-tiba turun. Ini saatnya aku akan menikmati hariku tidak sendiri seperti yang kubayangkan sebelumnya. Tapi, tangan ini terus bergerak, walau peluh semakin deras mengalir menunggu dicabutnya nywa oleh malaikat tapi darah ini terus mengalir, nafasku masih ada, jantungku tidak berhenti. Mata kubuka, dan yang ada bukanlah halaman pekarangan belakang rumah ataupun rumah sesorang yang menolongku. Namun, yang ada adalah bekas ruang tamu dengan onggokan kursi yang memuntahkan isinya, dan jendela tanpa kaca, serta bekas ruang tamu yang habis terbakar lalu tertimpa hujan. Figuranyapun sekarang tak berpenghuni, dan aku yang tampak dua tahun lebih tua dengan memakai celana abu-abu mengangkat tubuhku untuk berdiri. Karena, ternyata aku  tidur dengan mimpi yang tak pernah sekali-kali kusebut sebagai mimpi.
Hari sudah terik. Hujan yang tadi turun kini airnya telah sedikit menguap, dan akupun harus pergi, dan sejenak kulihat figura tak berpenghuni dan bukan tidak sesuatu yang kudapati, melainkan wajah ayah, ibu, dan Rafa yang tersenyum kepadaku.
“Aku merindukan kalian. Aku tidak akn mengecewakan kalian.”
Dan bergegas aku berlari dengan mengusap air mataku yang kembali bercucuran. Namun, yang kulihat sekarang membuatku lagi-lagi tak bergerak. Bukan ayah, bukan ibu, bukan Rafa, ataupun om Kosim yang bajingan, tapi adalah putrinya yang setahun lebih muda dariku, Asna.
Sejenak mata ini tak berubah ketika aku dulu memandangnya, dia masih terlihat cantik. Tapi, lebih dari itu, kebencianpun kini menyelubungi seluruh batinku. Di satu sisi, aku tak bisa membencinya, namun di sisi lain ayahnyalah yang membuat aku begini, selama beberapa bulan mengharap belas kasihan orang lain dan jika tidak ada orang yang memungutku akupun tak tahu apa yang nanti akan terjadi padaku, ayahnyalah yang membuatku benci kepadanya.
“Kak? Kak Rifki? Benar Kak Rifki?” Dia memandangiku dengan tulus dan seakan kebencianku hilang, matanya, rambutnya, parasnya, senyumannya.
“Kak Rifki? Ini Asna, Kak? Kak Rifki ingat?”
“Entahlah. . . ,” masa depan masih panjang, sayang. . . . . .

1 komentar:

  1. How do I make money off of betting in casinos? - Work
    The difference between making money from casino and 메리트 카지노 고객센터 betting is that you can win 메리트 카지노 real money. That means you're หารายได้เสริม betting on the outcomes of a sporting event

    BalasHapus